Kamis, 29 Desember 2016

wardahA: puisi hati ku

wardahA: puisi hati ku: Pengkhiatanmu Oleh:  WR. Atiro Semburat cahaya merah yang memancar Di ufuk selatan Membawa duka yang panjang Penuh penantia...

puisi hati ku



Pengkhiatanmu
Oleh:  WR. Atiro

Semburat cahaya merah yang memancar
Di ufuk selatan
Membawa duka yang panjang
Penuh penantian...
Penantian...kesetian...kebahagiaan..juga kesepian..
Semua berkumpul di sini,..dalam relung hati yang paling dalam
Berbulan-bulan setia menemanimu
Bertahun-tahun menjajari langkahmu
Bahkan sampai mati pun jiwa ini menunggumu
Setiap hari...menit..dan detik..
Suara ini menyatu dengan alam
Mendendangkan nama mu..
Letih tak terkira
Namun selalu mencoba bertahan ...
Minggu lalu ku dengar kau akan pulang
Kerinduan dan kebahagiaan bergejolak seirama
Mebuncah keluar dari hati yang dalam
Raga ini berlari ...bersemangat
Namun seketika juga hati ini remuk bekeping keping
Hancur tak berbentuk..
Melihatmu bersanding dengan dewi cantik dari seberang
Redup jiwa ini...lemah raga ini ... Tak mampu langkahkan kaki...
Awan mendung menyelimuti dataran ini...sore ini...
Menyisakan kepedihan
Serta kesengsaraan hati :'(

laporan kunjungan museum ronggowarsito



LAPORAN KUNJUNGAN
DI MUSEUM RONGGOWARSITO
SEMARANG

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.SI




Oleh:

Atirotul Wardah
NIM. 1403026060


FAKULTAS  ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016

Nama Ronggowarsito dipakai sebagai nama museum karena merupakan pujangga yang fenomenal di Keraton Surakarta dan karya sastranya mengandung nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk bagi bangsa Indonesia yang sifatnya membangun dan mendidik menuju pada kemuliaan, kesejahteraan, kejayaan, dan kebahagiaan bangsa Indonesia seluruhnya.
Koleksi-koleksi dari museum Ronggowarsito berjumlah 59.802 buah yang terbagi dalam 10 jenis, yaitu: geologi, biologika, arkeologi, historika, filologi, numismatic/heraldika, kramologika, teknologika, ethnografika, dan seni rupa.
Dalam laporan ini penulis akan memaparkan beberapa koleksi yang ada di museum Ronggowarsito yang terkait dengan adanya nilai budaya Islam dan Jawa dalam koleksi tersebut
Museum Ronggowarsito menyimpan koleksi-koleksi peninggalan dalam hal budaya Jawa, diantaranya adalah koleksi miniatur Masjid Agung Demak, miniatur Menara Kudus, Wayang Kulit, Bedug dan Kentongan juga Gamelan Jawa. Peninggalan-peninggalan tersebut ternyata menyimpan sejarah yakni adanya pola interelasi dalam budaya Jawa dan Islam. Keduanya berakulturasi dengan membentuk suatu kebudayaan baru yang tidak mempengaruhi keyakinan Islam dalam hal ritual ibadah.
A.      Menara Kudus
Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertamanya. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu.
Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para Walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, dia mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat terlihat pada Menara Masjid Kudus ini.
B.     Wayang
Adapun beberapa wayang yang terdapat pada musiium Ronggowarsito diatntaranya adalah sebagai berikut :
1.                        Wayang sadat,  wayang ini diciptakan oleh Suryadi Warno Suhardjo di Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Wayang ini sepenuhnya bernafaskan Islam dengan suasana pesantren dan dalam penyampaiannya tetap menggunakan dasar budaya Jawa. Bentuk wayang peraga dibuat lebih realistik. Sunggingan wayang Sadat lebih meriah dibandingkan dengan wayang kulit Purwa dengan menggunakan warna-warna yang lebih cerah.
Yang unik dari pagelaran wayang ini adalah suara pukulan bedhug bertalu-talu disusul dengan ucapan assalamualaikum oleh dalang yang memainkan wayang sebagai penanda dibukanya pagelaran wayang Sadat. Dan cerita yang ditampilkan dalam wayang diambil dari kisah para wali dan riwayat penyebaran Islam di Pulau Jawa. Wayang ini digunakan sebagai keperluan dakwah Islam yang sering dikaitkan dengan kata syahadatin dalam penamaannya sebagai akronim sarana dakwah dan tabligh.
2.  Wayang warta, wayang ini menceritakan kisah yang bersumber dari kitab injil. Wayang ini diciptakan        oleh R. Soemiyanto di Klaten.
3.      Wayang golek, wayang  ini terbuat dari kayu dan diberi baju seperti manusia. Menurut legenda yang berkembang, Sunan Kudus menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat dengan menggunakan bahasa Jawa. Selain berfungsi sebagai penyebar agama Islam pertunjukkan seni wayang golek ini juga menjadi  pelengkap upacara selamatan atau ruwatan, serta menjadi tontonan dan hiburan dalam perhelatan tertentu.
4.      Wayang kulit, menurut sejarah orang yang pertama kali membuat jenis wayang ini adalah sunan Kalijaga dengan tujuan menyebarkan agama Islam, wayang ini terbuat dari lembaran kulit kerbau atau sapi yang dipahat menurut bentuk wayang, kemudian disungging dengan warna-warni yang mencerminkan perlambangan karakter dari sang tokoh dan terdapat cempurit. Cempurit adalah kerangka yang terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu. Yang digunakan sebagai penguat agar lembaran wayang tidak lemas.
C.        Bedug dan Kentongan
Bedug terkait dengan masa prasejarah Indonesia di mana nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu yang dipakai dalam minta hujan. Kata Bedug juga sudah disinggung dalam Kidung Malat, sebuah karya sastra dari abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan bahwa bedug dibedakan antara bedug besar (teg-teg) dengan bedug ukuran biasa. Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda adanya perang, bencana alam atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah Jawa yang mengatakan, “Wis wanci keteg.” (sudah waktu siang). Kata ”keteg” diambil dari saat teg-teg dibunyikan.
Seiring perkembangan zaman, bedug dan kentongan berubah fungsi, yaitu untuk pertanda bahwa waktu sholat fardhu telah tiba sebelum adzan dikumandangkan. Bedug sendiri terbuat dari kulit sapi ataupun kambing yang sudah dikeringkan lalu, dipasang pada kayu yang sudah berbentuk tabung tanpa alas,tutup serta isi. Sedangkan Kentongan terbuat dari kayu yang dilubangi memanjang sehingga menimbulkan bunyi yang khas. Bunyi dari kedua benda itu mempunyai makna tersendiri. Bunyi kentongan yg berbunyi “tong...tong..tong” memiliki arti kalau masjid ijeh kotong kata orang jawa yang artinya masjid masih kosong. Sedangkan bunyi bedug yang berbunyi “deng...deng..deng” memiliki arti bahwa masjid ijeh sedeng kata orang jawa yang artinya masjid masih muat. Maka dari itu bedug dan kentongan dijadikan sebagai pembuka sebelum adzan karena bunyi dari kedua benda tersebut berisi ajakan untuk mengisi masjid yang masih kosong dan masih muat untuk beribadah. Dalam hal ini adanya unsur budaya Jawa dalam kedua benda tersebut, kemudian berakulturasi dengan Islam terbentuklah suatu kebudayaan baru dimana kedua benda tersebut menjadi alat komunikasi pertanda masuknya waktu shalat fardhu bagi umat Islam.
LAMPIRAN-LAMPIRAN






Sabtu, 24 September 2016

islam dan budaya jawa



Islam dan Budaya Jawa
Sebelum adanya islam yang masuk ke tanah jawa, masyarakat jawa telah memiliki sebuah kepercayaan aninisme dan dinanisme. Mereka percaya terhadap hal-hal ghaib yang di implementasikan dalam kehidupan nyata. Mereka percaya akan adanya kekuatan-kekuatan ruh yang membantu mereka, mereka sering mengadakan upacara ritual menggunakan sesajen dan kemenyan yang di persembahkan kepada ruh dengan tujuan supaya ruh selalu menjaga dan menolong mereka.
Kebudayaan jawa ketika pada masa hindu budha tidak terlalu jauh beda. Agama hindu budha mudah di terima oleh masyarakat jawa karena memiliki pengaruh yang kuat terhadap keercayaan yang di anut oleh masyarakat dan kondisi sosial nya. Di agama hindu budha ini, masyarakat jawa juga masih melakukan beberapa ritual. Beberapa di antaranya adalah ritual kesuuran supaya cepat dapat keturunan, ritual perawatan pusaka keris sebagai tanda kebesaran serta upacara keagamaan grebeg, sekaten dan juga selametan.
            Pandangan hidup jawa. Pandangan hidup jawa bukanlah suatu agama, akan tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, meliputi pandangan terhadap tuhan serta peranan manusia di bumi. Tolak ukur bagi pandangan jawa adalah nilai pragmatisnya untuk mencapai suatu keadaan psikis tertentu, yaitu ketenangan, ketentraman, serta keseimbangan batin.
            Masuknya islam di jawa. Islam masuk ke jawa melalui pesisir pulau jawa. Islam masuk ke jawa di bawa oleh para wali yang kita kenal dengan istilah walisongo. Para walisongo ini juga sangat berperan dalam mendirikan kerajaan islam di jawa. Islam masuk di jawa tidak terjadi konflik-konflik yang cukupp berarti. Semuanya berjalan cukup lancar. Para walisongo dalam menerapkan agama islam di jawa dengan cara pendekatan yang berusaha menciptakan suasana damai, penuh toleransi, sedia hidup berdampingan dengan pengikut agama dan tradisi lain yang berbeda tanpa mengorbankan agama dan tradisi agama masing-masing.
            Islam di jawa dan pengaruhnya. Adanya islam di jawa sangat mempengaruhi masyarakat jawa. Sebelum adanya islam, mereka mempersembahkan sesuatu kepada bebatuan, poho yang di anggap keramat. Adanya acara kehamilan yang 4 bulan dengan memohon kepada ruh yang di anggap membawa berkah. Setelah adanya islam, budaya tersebut msih ada namun di arahkan pada arah yang lebih benar. Yang mengacu dan di tujukan kepada Allah atau berdoa memohon hanya kepada Allah.
            Interellasi nilai jawa dan islam pada aspek kepercayaan dan ritual. Agama islam mempunyai juga menggunakan berbagai macam ritual seperti halnya yang sudah berjalan di kebudayaan jawa. Namun dalam agama islam, ritual-ritual tersebut di ajarkan untuk lebih taat terhadap agama. Ritual yang di ajarkan dalam islam meliputi berbagai bentuk ibadah yang salah satunya tersimpul dalam rukun islam.
            Kemudian hubungan nilai jawa dan islam pada aspek sastra dan pewayangan. Sastra merupakan  sebuah ciptaan,sebuah kreasi, bukan semata-mata hanyalah imitasi. Istilah wayang bisa di rtikan sebagai bonek tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit kayu dan sebagainya yang di manfaatkan untuk memerankan tokoh pertunjukan drama tradisional. Interellasi nilai islam dan jawa dalam aspek sastra dan pewayangan merupakan salah satu bagian yang khas dari proses perkembangan budaya jawa. Wayang memiliki seni estetis yang terkandung di dalamnya, dan juga berfungsi sebagai tontonan dan tuntunan kehidupan.
            Pada aspek arsitektur antara islam dan jawa saling berhubungan. Adanya menara, lawang kembar(pintu gapura), adanya bedug dan kentongan yang bangunanya mrip dengan bangunan hindu. Kemudian pada bangunan makam juga masih berkaitan dengan kebudayaan jawa.
            Simbol sinkretisme politik jawa-islam tampak menyolok pada gelar raja-raja jawa islam, seperti gelar sultan, kalifatullah, susuhanan dan sebagainya. Jadi sistem kepemeritahanaya berbentuk monarki. Hal ini sama dengan sebelum masuknya islam. Adanya kerajaan majapahit, sriwijaya.
            Dalam islam, sistem ekonomi yang di terapkan rosulullah SAW. Berakar dari prinsip-prinsip qur’ani. Dalam budaya jawa sendiri, kegiatan-kegiatan ekonomi juga tidak terlepas dari kepercayaan-keecayaan mitologi.
            Wanita dalam budaya jawa. Wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan tertata dan juga lemah lembut. Karakteristik wanita jawa lebih cenderung ngayomi, lugu, kalem, dan segala tingkah lakunya memiliki kharismatik. Jiwa wanita jawa lebih sensitife, lebih dominan dalam kasih sayang, belas kasihan, murah hati dan berbagai aspek perasaan lain. Wanita jawa berperan dalam keharmonisan dan kedekatan terhadap keluarga.
            Dinamika islam dan jawa di era modern. Pada era modern saat ini mempengaruhi suatu budaya untuk mengikuti perkembangan zaman. Wujud budaya tak lepas dari situasi tempat dan waktu di hasilkanya kebudayaan tersebut. Kebudayaan jawa yang yang mengikuti era modern berupa fisik atau aspek luar, sedangkan sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan agama dan adat istiadat sulit dan tidak berubah karena sudah mengakar dalam diri masyarakat jawa.

Minggu, 18 September 2016

cerpen lucu_perjuangan Gucer


Perjuangan Gucer
Oleh: WR. Atiro

Mentari pagi mulai mengintip malu-malu melalui celah-celah rimbunya dedaunan pohon, sedikit demi sedikit embun pagi di uapkan perlahan oleh hangatnya mentari. Gucer. Cowo super duper  yang mempunyai rambut klimis dengan bau minyak jlantah yang semerbak serta celana kolor usang serta kaos oblong yang bolong-bolong*. Ia mulai berjalan keluar dari tempat persemayamanya alias kamar tidur. Tanpa mandi tanpa ganti baju ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi yang di dalamnya terdapat lemari makanan untuk mengisi perutnya yang mengeluarkan banyak bunyi, ada bunyi musik dangdut, musik keroncong, sampai bunyi musik milik tetangga pun keluar dari perutnya. Maklum selama dua hari lima malam tak di isi apapun karena tak punya uang. Ia perlahan membuka lemari makanan dan mendapati lemarinya kosong tak ada apapun. Ia baru ingat dari kemaren kan nggak punya uang, mana bisa ia punya makanan. Haahh. Lalu ia berjalan menuju gudang yang letaknya di depan pintu masuk. Gudang di rumahnya unik. Biasanya letak gudang kebanyakan orang kan di rumah bagian tengah atau belakang, nah si gucer ini gudangnya berada di depan pintu masuk dan jika ia mau keluar maka ia harus melompat lewat jendela tanpa tirai yang berada di kamar tidur. “braakk”. Gucer membuka pintu gudang. Ia mencari-cari barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana. Eehhh sorry sorry. Maksud ku barangkali  ada makanan sisa dari tikus-tikus yang biasa berkeliaran. Namun hasilnya nihil alias nol setengah besar setengah kecil. Tak ada apapun yang ia temui selain kekosongan. Kemudian ia berfikir untuk mencari makanan di luar saja, barangkali ada tetangga yang mau kasih makanan. Ia segera pergi menuju kamar tidur. Lohh? . ya kan tadi akses untuk jalan keluar nya kan lewat jendela yang ada di kamar tidur. Akhirnya ia segera berlari dan melompat jendela dengan penuh ancang-ancang karena tinggi jendela tersebut dari tanah sepanjang lima senti meter. Cukup tinggi sekali yah.eeehhh. setelah ia berhasil melompat dari jendela ia segera berlari dan lupa untuk menutup jendelanya kembali. padahal jendelanya memang selalu terbuka karena tak ada tutupnya. Alah tau ah. Yang penting si Gucer udah mulai mengais makanan di jalanan. Aduh kasian banget saya melihatnya. Niatnya saya mau membantu dia, tapi kalau saya membantu maka nggak jadi buat cerita ini dong. Ya udah saya mutusin nggak usah membantu dia. Okey kembali lagi ke si Gucer. Ia dengan telaten mencari di samping-samping rumah warga barangkali ada sisa makanan yang di buang. Dan setengah jam kemudian usahanya sia-sia. Lalu ia berjalan ke tepi jalan raya atau trotoar dan duduk sembari bersila menengadahkan tangan. Sesekali ia sambil berucap “tuan-tuan yang budiman tolonglah saya, saya butuh makanan, sudah beberapa hari saya banyak makan dan rasanya kenyang sekali” mohonya dengan bercucuran air mata yang membuat jalanan ini menjadi banjir. Setengah menit lebih empat puluh detik, ia duduk merenung dan berfikir ‘kalau minta makanan kan harusnya udah laper banget, bukan udah kenyang banget, aduh siapa sih yang nulis cerita ini, dia emang nggak tahu apa benar-benar b*doh yah’. Dan akhirnya saya sebagai penulis mendengar sayup sayup suara yang di ucapkanya. Saya merasa sangat tersinggung di bilang b*doh oleh si gucer. Saya berniat putus asa tapi nggak jadi karena si Gucer belum dapat makanan, jadi Saya berniat untuk putus nadi. Eeehhh. Kembali pada si Gucer yang ternyata sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Orang tersebut seperti asing di mata Saya. Dan Saya nggak mau menceritakanya karena Saya hanya mau menceritakan Gucer. Lelaki yang tadi berbicara kepada Gucer entah bicara apa karena tiba-tiba saja Gucer ikut masuk ke mobil lelaki tersebut. Mobil merpedes namanya. Pak lelaki itu yang ternyata namanya Macron adalah seorang pengusaha terkenal. Ia membawa Gucer untuk makan siang bersama di hotel bintang separuh. Saya berfikir ah pasti Gucer sudah kenyang dan Saya putuskan untuk berhenti menulis cerita ini sampai Gucer kenyang. Karena sekarang si Gucer udah kenyang, saya duduk duduk santai menikmati pemandangan langit kelabu sekelabu hatiku yang membiru yang tak pernah di hiasi cinta. Aduh keceplosan deh kalau saya selalu jomblo.
 “tolong…tolong…” suara seseorang, seperti….. seperti…. Ah Gucer. Gucer merintih kesakitan memegangi perutnya dan mendatangi penulis cerita ini yang tak lain adalah saya sendiri sambil berucap dengan nada yang sangat lantang, tapi karena ia sedang menderita kelaparan  jadi terdengar seperti sebuah bisikan. Ia menyalahkan Saya karena tak di teruskan tulisanya pada saat menulis sampai adegan masuk hotel bintang separuh. Gucer hanya berdiam diri mematung tak bernyawa saat di hotel tersebut karena menunggu keputusan apa yang akan Saya tulis. Alhasil dengan berbaik hati Saya lanjutkan lagi cerita ini. Gucer segera berjalan tertatih-tatih dengan lunglai, letih, lemas, lesu, lebay, eehh. Ia menuju warteg terdekat yang berada di pinggir pantai. Kenapa tiba-tiba warteg di pinggir pantai yah? Ah tau ni penulis nggak kreatif. Gucer pun tetap berjalan dan memasuki ruang makan tersebut. Ia menggunakan uang yang di berikan oleh Pak Macron tadi yang di tinggalkan di atas kepala Gucer saat Gucer  berdiri mematung di hotel bintang separuh. “bu makan bu” ucap gucer pada penjual di warteg tersebut. “saya masih muda pak, panggil saya mbak bukan ibu” teriak wanita itu sambil memandang dengan tatapan tajam seperti tatapan mata semut. “ma..aaf..bu…eh salah..maksud ku maaf bu” ucap gucer dengan gagap. “emang gue ibumu?” teriak mbak itu yang membuat dinding warteg bergetar. Gucer segera minta maaf dan keluar dari warteg karena di usir oleh mbak penjual. Ouuhh sungguh kejam kau mbak penjual makanan. “yang kejam itu elu penulis b*doh. Aku kan cuma di gerakan oleh mu. Yang bener dong. Udah laper banget nih”. Ucap gucer dengan nada amarah. Aduuh maafkan saya gucer. Dengan sekuat tenaga saya membawa gucer ke rumah saya sebagai tebusan permitaan maaf dan memberikan gucer hidangan istimewa lalu menyuapi gucer menggunakan sekop karena ia amat lapar. Selamat makan gucer.
*bolong-bolong = berlubang/ sudah banyak yang sobek

Selasa, 07 Juni 2016

penantian ku

akan kah kamu tahu penantian ku selama ini? aku selalu menunggu dan menunggu mu, aku telah mengharapkan mu, saat ini aku berusaha untuk menjaga kekomitmenan, namun aku tak tau, apakah kamu masih ingat janji mu waktu masih sma dulu? ketika kamu bilang, 'kita nggak usah pacaran, aku nanti akan langsung melamarmu ketika kita sudah sama-sama dewasa'.
aku selalu ingat akan janji mu itu, tapi terkadang aku ragu. ya mungkinkah perkataan itu bagimu hanya sebuah lelucon? ya. mungkin saja. karena di lihat dari sekarang, kamu q rasa udah gak peduli lagi sama aku, bahkan ya ah aku nggak tau. aku hanya ingin bilang, aku menunggumu dan aku sayang kamu dari dulu sampai sekarang